Citra Telematika - Kuliah Komputer di Kotamadya Bandung

Citra Telematika menyelenggarakan :

Aplikasi Perkantoran | Desain Grafis | Jaringan Komputer
Robotika | Pemasaran Digital

CITRA TELEMATIKA
Jl. Raya Timur No. 65, Ciborelang, Jatiwangi
Kab. Majalengka
(0233) 8281236 | 085216667297

Kuliah Komputer Bandung. Asal Muasal dan Sejarah Bandung Hari ini adalah 
hari jadi Kota Bandung yang ke-208. Pada 25 September 1810, Gubernur Jenderal, Herman Willem Daendels menerbitkan surat keputusan mengenai pembangunan sarana dan prasarana. Kota Bandung mulai dijadikan sebagai area permukiman semenjak pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Kemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi kota Bandung.

Sejarah Kota Bandung

Kuliah Komputer Bandung. Sejarah Kota Bandung berawal dari Legenda Sangkuriang yang mengisahkan bagaimana terbentuknya telaga Bandung dan Gunung Tangkuban Perahu. Air dari telaga Bandung menurut keterangan dari legenda, mulai mengering sebab mengalir melewati sebuah gua yang mempunyai nama Sanghyang Tikoro. Situ Aksan merupakan wilayah terakhir dari sisa-sisa Danau Bandung yang sudah kering. Pada tahun 1970-an masih merupakan telaga tempat pariwisata, sampai saat ini telah menjadi wilayah perumahan guna permukiman.
Kota Bandung secara geografis memang tampak dikelilingi oleh pegunungan, dan ini mengindikasikan bahwa pada masa kemudian kota Bandung memang adalahsebuah danau atau danau. Tahun 1896 Bandung belum diputuskan menjadi kota dengam data warga sebanyak 29.382 orang, selama 1.250 orang berkebangsaan Eropa, beberapa besar orang Belanda. 
Pada 1 April 1906, Kota Bandung secara sah mendapat kedudukan gemeente (kota) dari Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz dengan luas distrik sekitar 900 ha. Tahun 1949, meningkat menjadi 8.000 ha.
Pada masa perang kemerdekaan, 24 Maret 1946, beberapa kota ini dihanguskan oleh semua pejuang kebebasan sebagai strategi perang. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api dan diabadikan dalam lagu Halo-Halo Bandung. Kemudian, Kota Bandung ditinggalkan oleh beberapa penduduknya yang mengungsi ke wilayah lain.
Asal muasal nama “Bandung”
Sedangkan, terdapat sejumlah versi timbulnya kata "Bandung" yang sekarang dijuluki pun sebagai Parijs Van Java. Bandung berasal dari kata bendung atau bendungan sebab terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang lalu menyusun telaga. Adapun legenda yang mengisahkan "Bandung" dipungut dari suatu kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat bersebelahan yang dinamakan perahu bandung. Perahu ini dipakai oleh Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, guna melayari Citarum dalam menggali tempat status kabupaten yang baru guna menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot.
Ada pun sejarah kata "bandung" dalam bahasa Indonesia, identik dengan kata "banding" berarti berdampingan.
Ngabanding (Sunda) berarti bersebelahan atau berdekatan. Sedangkan, menurut filosofi Sunda, kata "bandung" berasal dari kalimat "Nga-Bandung-an Banda Indung," yang adalahkalimat sakral dan luhur sebab berisi nilai doktrin Sunda. Kata Bandung memiliki nilai filosofis sebagai alam lokasi segala makhluk hidup maupun benda mati yang bermunculan dan bermukim di Ibu Pertiwi yang keberadaanya ditonton oleh yang Maha Kuasa.
Julukan Kota Bandung
Kuliah Komputer Bandung. Di samping sejarah tentang Kota Bandung, kota ini pun memiliki sejumlah julukan yang seringkali disebut oleh masyarakat. Pertama yakni dengan julukan Kota Kembang. Istilah kota kembang berasal dari peristiwa yang terjadi tahun 1896 ketika Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula, Bestuur van de Vereninging van Suikerplanters yang berkedudukan di Surabaya memilih Bandung sebagai lokasi penyelenggaraan kongresnya yang kesatu.
Tuan Jacob mendapat masukan dari Meneer Schenk supaya menyediakan ‘kembang-kembang’ berupa "noni cantik" Indo-Belanda dari distrik perkebunan Pasir Malang guna menghibur semua pengusaha gula tersebut.
Kongres tersebut disebutkan sukses besar. Dari mulut peserta kongres tersebut kemudian terbit istilah dalam bahasa Belanda De Bloem der Indische Bergsteden atau ‘bunganya’ kota pegunungan di Hindia Belanda. Dari situ hadir julukan kota Bandung sebagai kota kembang.
Adapun Kota Bandung dijuluki Parisj Van Java. Pada kitab Otobiografi Entin Supriatin, berjudul Deritapun Dapat Ditaklukan, dilafalkan Bandung dikenal dengan sebutan Parijs Van Java atau Paris-nya Pulau Jawa. Istilah Parijs van Java muncul sebab pada waktu tersebut di Jalan Braga, terdapat tidak sedikit toko yang memasarkan barang-barang buatan Paris, khususnya toko pakaian. Toko yang familiar diantaranya ialah toko mode dan pakaian, Modemagazinj ‘au bon Marche’ yang memasarkan gaun perempuan mode Paris. 
Di samping itu, ada restoran makanan khas Paris Maison Bogerijen yang menjadi lokasi santap semua pejabat dan pengusaha Hindia Belanda atau Eropa. Muncullah julukan lain untuk kota Bandung sebagai Parijs van Java.
Sebutan Bandung Lautan Api pun sering disinggung sebagai julukan guna Kota Bandung. Pada Maret 1946, dalam masa-masa tujuh jam, selama 200.000 warga mengukir sejarah dengan menghanguskan rumah dan harta benda mereka, meninggalkan kota Bandung mengarah ke pegunungan di selatan. Bandung sengaja dihanguskan oleh Tentara Republik Indonesia (TRI) dan rakyat dengan maksud supaya Sekutu tidak bisa menggunakannya lagi.
Bandung Lautan Api lantas menjadi istilah yang terkenal sesudah peristiwa pembakaran itu. Almarhum Jenderal Besar A.H Nasution terkenang saat mengerjakan pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), sesudah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta, untuk menyimpulkan tindakan apa yang akan dilaksanakan terhadap Kota Bandung sesudah menerima ultimatum Inggris.
Istilah Bandung Lautan Api hadir pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda ketika itu, yakni Atje Bastaman, menonton pemandangan pembakaran Bandung dari bukit Gunung Leutik di dekat Pameungpeuk, Garut. Dari puncak tersebut Atje Bastaman menyaksikan Bandung yang memerah dari Cicadas hingga dengan Cimindi.
Setelah mendarat di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan energik segera mencatat berita dan memberi judul Bandoeng Djadi Laoetan Api. Namun sebab kurangnya ruang untuk artikel judulnya, maka judul berita diperpendek menjadi Bandoeng Laoetan Api.
Kini julukan Bandung Lautan Api dipakai sebagai nama stadion bertaraf internasional di area Gedebage, wilayah unsur timur kota Bandung: Stadion Gelanggang Olahraga Bandung Lautan Api (GBLA). 

Bagikan

Jangan lewatkan

Citra Telematika - Kuliah Komputer di Kotamadya Bandung
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.